Pemerintahan di seluruh Eropa sedang bergulat dengan meningkatnya dampak media sosial terhadap generasi muda, sehingga menimbulkan perdebatan serius mengenai pembatasan usia dan larangan langsung. Masalah intinya: semakin banyak bukti yang mengaitkan waktu pemakaian perangkat yang berlebihan dan konten berbahaya dengan masalah kesehatan mental, cyberbullying, dan persepsi diri yang menyimpang pada anak di bawah umur. Ini bukan hanya kekhawatiran orang tua; sekarang ini merupakan persimpangan kebijakan.
Dorongan Global untuk Regulasi
Australia memelopori larangan media sosial nasional pertama bagi anak di bawah 16 tahun pada bulan Desember 2023, yang memaksa platform besar seperti Facebook, TikTok, dan Instagram untuk menerapkan verifikasi usia. Kini, beberapa negara Eropa sedang mempertimbangkan tindakan serupa. Austria sedang mempertimbangkan larangan bagi anak di bawah 14 tahun, sementara Parlemen Eropa mengusulkan usia minimum di seluruh Uni Eropa yaitu 16 tahun untuk akses independen.
Tren ini mengikuti putusan pengadilan AS yang menyatakan Meta (perusahaan induk Facebook dan Instagram) dengan sengaja mengeksploitasi kerentanan anak-anak demi keuntungan, sehingga memicu krisis kesehatan mental. Preseden hukum ini menggarisbawahi pentingnya melindungi anak di bawah umur dari algoritma manipulatif yang dirancang untuk kecanduan.
Perdebatan: Larangan vs. Pendidikan
Pertanyaan utamanya bukanlah apakah media sosial menimbulkan risiko, melainkan apakah media sosial menimbulkan risiko. Perdebatan berpusat pada apakah pelarangan langsung merupakan solusi terbaik. Banyak yang berpendapat bahwa verifikasi usia yang ketat pada dasarnya memiliki kelemahan, dan anak-anak pasti akan menghindari pembatasan menggunakan VPN atau identitas palsu. Hal ini dapat mendorong mereka ke sudut-sudut internet yang lebih berbahaya dan tidak diatur.
Ada juga yang bersikeras bahwa larangan langsung diperlukan untuk melindungi anak-anak dari konten berbahaya. “Sebagian besar teman saya dan saya sangat menderita karena hal-hal yang tidak seharusnya kami lihat…jadi menurut saya, mencegah [anak muda menggunakan media sosial] bukanlah hal yang buruk,” kata Margot, berusia 26 tahun dari Lyon, Prancis.
Namun, hal yang penting adalah perlunya pendidikan literasi digital. Hanif Ibrahim, seorang pelajar di Lyon, berpendapat bahwa larangan yang tiba-tiba dapat membuat anak di bawah umur tidak siap untuk menggunakan media sosial secara bertanggung jawab di kemudian hari. “Kami tidak ingin [anak di bawah umur] terjerumus ke dalam media sosial ini. Anda ingin memastikan mereka belajar cara menggunakannya secara perlahan.”
Masalah Kesehatan Mental Mendorong Tindakan
Diskusi ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya angka depresi dan kecemasan di kalangan anak muda, terkait dengan paparan media sosial. Sorengo Guie, seorang perawat di Brussels, mengamati lonjakan kasus: “Saya melihat setiap hari, semakin banyak anak muda yang menderita depresi. Mereka dilecehkan di media sosial atau merasa harus terlihat seperti model.” Hal ini menggarisbawahi konsekuensi nyata dari penggunaan media sosial yang tidak terkendali.
Portugal menerapkan undang-undang yang mewajibkan izin orang tua untuk anak di bawah 16 tahun, sementara Inggris sedang menguji coba larangan terhadap 300 remaja sebagai bagian dari konsultasi publik yang lebih luas. Benang merahnya: pihak berwenang mengakui perlunya intervensi, namun pendekatan optimal masih diperdebatkan.
Solusi yang Tak Terhindarkan
Tantangan utamanya adalah penegakan hukum. Seperti yang dikatakan oleh Tyler, seorang pekerja ritel di London, “Anak-anak akan menemukan jalan keluarnya…Anda masih dapat terhubung ke VPN…Orang-orang, banyak anak muda, jauh lebih paham teknologi dibandingkan saya sebelumnya.” Hal ini menyoroti keterbatasan pembatasan dari atas ke bawah tanpa mengatasi kelemahan desain yang mendasari platform media sosial.
Desain dasar media sosial, yang dibangun berdasarkan algoritma yang sangat adiktif, perlu diubah.
Pada akhirnya, perdebatan bukan hanya mengenai pelarangan; ini tentang memaksa perusahaan media sosial untuk mengatur diri sendiri dan memprioritaskan kesejahteraan pengguna dibandingkan metrik keterlibatan. Meningkatnya momentum menuju peraturan yang lebih ketat menandakan bahwa era akses yang tidak terkendali bagi anak di bawah umur akan segera berakhir.
