Masa depan pendidikan mengambil langkah maju—atau mungkin langkah yang diperhitungkan—di Gedung Putih minggu ini, ketika robot humanoid bernama Figure 03 menyampaikan pidato pembuka pada Pertemuan Koalisi Global Membina Masa Depan Bersama. Acara yang dipandu oleh Ibu Negara Melania Trump ini memamerkan potensi kecerdasan buatan dalam pendidikan, dan membayangkan sebuah dunia di mana robot bertenaga AI bertindak sebagai pengajar yang dipersonalisasi untuk anak-anak.

Bangkitnya Robot Pendidik

Robot Figure 03, diproduksi oleh Figure AI yang berbasis di Silicon Valley, saat ini dihargai sekitar $25,000. Awalnya dirancang untuk tugas-tugas rumah tangga—melipat cucian, menangani bahan makanan, bahkan melayani minuman di tepi kolam renang—kemampuannya kini meluas ke peran pendidikan. Pada pertemuan puncak tersebut, robot tersebut menyapa para peserta dalam berbagai bahasa, menggambarkan AI sebagai alat untuk “memberdayakan anak-anak dengan teknologi dan pendidikan.”

Ibu Negara secara khusus menyarankan robot-robot ini dapat merevolusi pembelajaran dengan beradaptasi dengan kecepatan, tingkat pengetahuan, dan keadaan emosi setiap siswa. Konsep ini sejalan dengan dorongan yang lebih luas terhadap AI dalam pendidikan, di mana mesin menjanjikan pengajaran individual dalam skala besar.

Peran Teknologi Besar dan Pendanaan Pemerintah

KTT ini dihadiri para pemimpin dari 45 negara dan perwakilan dari raksasa teknologi seperti Google, OpenAI, dan Microsoft, serta perusahaan analisis data Palantir. Menteri Pendidikan AS Linda McMahon menekankan bahwa AI adalah prioritas utama Departemen Pendidikan, dengan dana hibah jutaan dolar telah dialokasikan untuk mendukung integrasi AI ke dalam sekolah.

McMahon menggambarkan AI sebagai solusi hemat biaya untuk memperluas sumber daya pendidikan, dengan menyatakan bahwa AI dapat “mempekerjakan banyak orang dengan biaya yang lebih murah.” Pernyataan ini menggarisbawahi insentif keuangan yang mendorong adopsi AI, bahkan ketika masih ada pertanyaan tentang potensi perpindahan pendidik manusia.

Reaksi dan Kekhawatiran atas Hubungan Manusia

Pengenalan robot humanoid ke dalam diskusi pendidikan telah memicu reaksi balik. Kritikus berpendapat bahwa mengganti guru dengan mesin akan menghilangkan interaksi penting antara manusia dan mempercepat hilangnya pekerjaan. Komentar di media sosial mencerminkan skeptisisme yang mendalam, dan banyak yang mempertanyakan manfaat robot tanpa emosi dalam membentuk pikiran anak muda.

Perdebatan ini muncul ketika pemerintahan Trump terus merombak Departemen Pendidikan, menghadapi kritik atas usulan perubahan kebijakan dan pemotongan dana. Fokus pada AI mungkin mencerminkan pergeseran yang lebih luas ke arah solusi teknologi, meskipun konsekuensi jangka panjangnya masih belum pasti.

Pengenalan robot bertenaga AI ke dalam pendidikan menimbulkan pertanyaan mendasar tentang masa depan pengajaran dan pembelajaran. Meskipun para pendukungnya memuji efisiensi dan personalisasi, para penentang khawatir akan hilangnya hubungan antarmanusia dan potensi gangguan lebih lanjut dalam sistem pendidikan yang sudah tegang. Perdebatan ini kemungkinan akan semakin intensif seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam ruang kelas di seluruh dunia.