Pemerintahan Trump pada hari Jumat meluncurkan kerangka legislatif yang dirancang untuk menetapkan kebijakan nasional terpadu untuk kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat. Rencana tersebut bertujuan untuk mendahului undang-undang AI di tingkat negara bagian, mengkonsolidasikan kekuasaan di Washington dan berpotensi melemahkan upaya yang dilakukan negara baru-baru ini untuk mengatur teknologi yang berkembang pesat.

Argumen inti di balik sentralisasi ini adalah bahwa lanskap peraturan yang terfragmentasi menghambat inovasi Amerika. Menurut pernyataan Gedung Putih, “Peraturan negara yang saling bertentangan akan melemahkan inovasi Amerika dan kemampuan kita untuk memimpin perlombaan AI global.” Kerangka kerja ini mengusulkan pendekatan federal yang mengesampingkan peraturan negara bagian yang lebih ketat, dan memprioritaskan penskalaan dan pengembangan AI.

Pergeseran Tanggung Jawab: Orang Tua Atas Platform

Salah satu elemen kunci dari kerangka ini adalah perubahan tanggung jawab yang signifikan. Daripada memberikan kewajiban yang ketat pada perusahaan AI, peraturan ini menekankan kontrol orang tua terkait isu-isu seperti keselamatan anak. Proposal tersebut meminta Kongres untuk membekali orang tua dengan alat untuk mengelola lingkungan digital anak-anak mereka, seperti kontrol akun dan batasan penggunaan perangkat. Meskipun mereka mengakui adanya kebutuhan untuk mengurangi risiko eksploitasi seksual dan tindakan menyakiti diri sendiri, mereka tidak memberikan persyaratan yang konkrit dan dapat ditegakkan bagi platform tersebut.

Pendekatan ini mencerminkan tren yang lebih luas menuju regulasi yang lebih ringan, yang didukung oleh tokoh-tokoh seperti Tsar AI Gedung Putih David Sacks, seorang pemodal ventura yang dikenal karena pandangannya yang pro-pertumbuhan dan “akselerasi”. Kerangka kerja ini bertujuan untuk menciptakan “standar nasional yang tidak terlalu memberatkan,” dan mempercepat adopsi AI di seluruh industri.

Penegakan Hukum Negara Bagian dan Perlindungan Tanggung Jawab

Kerangka kerja ini secara aktif berupaya untuk mendahului peraturan AI di negara bagian, dan hanya menjaga otoritas negara atas undang-undang umum seperti penipuan, perlindungan anak, zonasi, dan penggunaan AI oleh negara. Perjanjian ini secara eksplisit memberikan garis keras terhadap negara-negara yang mengatur pengembangan AI, dan membingkainya sebagai masalah yang “inheren antarnegara” yang terkait dengan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri.

Yang terpenting, kerangka kerja ini mengusulkan untuk melindungi pengembang AI dari tanggung jawab atas tindakan melanggar hukum yang melibatkan model mereka. Ketentuan ini mencegah negara-negara bagian untuk memberikan sanksi kepada pengembang atas penyalahgunaan teknologi mereka oleh pihak ketiga, yang merupakan tuntutan utama dari industri AI.

Respon Industri: Dukungan terhadap Standar Nasional

Banyak pihak di industri AI yang menyambut baik kerangka kerja ini dan melihatnya sebagai jalan menuju inovasi yang lebih cepat. Teresa Carlson, presiden General Catalyst Institute, menyatakan bahwa para startup telah meminta hal ini: “Standar nasional yang jelas sehingga mereka dapat membangun dengan cepat dan berskala besar.” Kerangka kerja ini menghilangkan hambatan dalam menjalankan undang-undang negara bagian yang bertentangan, sehingga meringankan beban peraturan bagi perusahaan AI.

Kekhawatiran Terhadap Akuntabilitas dan Pengawasan

Kritikus berpendapat bahwa sentralisasi ini mengurangi peran negara sebagai regulator awal, sehingga menghambat eksperimen dan pengawasan. Brendan Steinhauser, CEO The Alliance for Secure AI, menuduh pemerintah melakukan “perintah perusahaan teknologi besar dengan mengorbankan warga Amerika yang biasa dan pekerja keras.” Kerangka kerja ini tidak memiliki ketentuan mengenai pengawasan independen, mekanisme penegakan hukum, atau kerangka tanggung jawab atas kerugian baru yang disebabkan oleh AI.

Pendirian pemerintah mengenai hak cipta dan kebebasan berpendapat semakin memperumit masalah ini. Meskipun mengakui penggunaan wajar data pelatihan AI, peraturan ini juga menekankan pencegahan sensor pemerintah, yang berpotensi menghambat regulasi misinformasi atau campur tangan pemilu.

Gugatan Antropis: Bentrokan Amandemen Pertama

Penekanan kerangka kerja ini pada perlindungan “ekspresi politik yang sah” muncul ketika Anthropic menggugat pemerintah, dengan tuduhan pelanggaran Amandemen Pertama setelah Departemen Pertahanan menyebutnya sebagai risiko rantai pasokan karena menolak mengizinkan aplikasi pengawasan militer. Bentrokan ini menyoroti dorongan pemerintah yang lebih luas terhadap “AI yang terbangun,” karena Trump secara terbuka mengkritik Anthropic karena netralitas ideologisnya.

Kesimpulannya, kerangka kerja AI yang diusulkan pemerintahan Trump memprioritaskan standardisasi nasional dan pertumbuhan industri dibandingkan peraturan tingkat negara bagian dan pengawasan komprehensif. Peralihan ke arah tanggung jawab orang tua dan perlindungan tanggung jawab bagi pengembang menimbulkan kekhawatiran mengenai akuntabilitas dan potensi pengembangan AI yang tidak terkendali.